Tampilkan postingan dengan label Isu Lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Isu Lingkungan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Desember 2015

OPINI : BREASTFEEDING AND WORK

Assalamu'alaikum shalihat...today is holiday right, yuhu huwo!!! I just spending my time on my bed (after do my homework off course). What about you?

Tergelitik menulis ini karena salah satu sohib saya, Whini ngeganti DP BBM dengan gambar ibu menyusui dengan tulisan breastfeeding and work. Betul sekali dia adalah seorang Working Mom dengan dua buah hati yang jarak usianya berdekatan dan salah satunya masih menjadi penikmat ASI dari sang Bunda. Nah, mungkin banyak dari teman-teman sekalian yang ngerasa jadi Pejuang ASI ya karena begini ini.

MasyaAlloh ya gimana rasanya *ah, jadi kepengen*. Gimana nggak hebat coba. Asupan ASI setiap orang itu jelas beda-beda, tapi pasti Ibu-ibu berpikir sama bahwa mereka kepengen ngasih ASI buat buah hati mereka tidak kurang dari dua tahun dan enam bulannya eksklusif. Kondisi setiap orang pun beda-beda, ada Ibu yang bekerja, ada ibu yang usaha di luar rumah (full time dan tempat usaha tidak memungkinkan untuk memberikan ASI karena faktor kebersihan dan lain sebagainya mungkin). Nah, bagi Ibu-ibu yang bekerja atau berkarya di rumah pastinya harus jauh lebih bersyukur karena tidak terbatas ruang dan waktu dengan sang buah hati, tinggal bagaimana mengatur asupan ASI untuk sang buah hati.

Sebetulnya Pemerintah sudah mengeluarkan maklumat melalui Peraturan Kemenkes nomor 15 tahun 2013 yang mengatur bagaimana penyediaan fasilitas tempat menyusui yang layak di tempat bekerja. Namun demikian apa yang terjadi?Pada beberapa kasus justru terjadi diskriminasi terhadap working mom yang sedang dalam masa menyusui, entah itu oleh teman-teman mereka atau malah dari perusahaan tempat mereka bekerja itu sendiri. Hal inilah yang membuat para working mom menjadi tidak nyaman, dan mereka akhirnya memilih untuk resign dari tempat mereka bekerja. Ah, itu yang banyak membuat working mom berkecil hati dan sering merasa tersisih.

Secara umum ada dua tujuan pokok mengapa sih harus ada fasilitas menyusui di tempat bekerja?Pertama, Agar hak anak sebagai generasi penerus bangsa tidak hilang sekalipun Bunda mereka tetap aktif bekerja. Kedua, agar pemberian ASI mendapat dukungan dari semua pihak. Baik itu keluarga,lingkungan tempat bekerja dan juga pemerintah. Jika ketiganya bersinergi dengan baik maka pemberian ASI, terutama ASI eksklusif tidak akan terhambat. Nah bagaimana implementasinya?

Peraturan pemerintah ini seperti dianggap wacana belaka karena memang tidak ada sanksi tegas yang mengikat jika di tempat bekerja tidak ada fasilitas menyusui bagi para pegawainya. Pun, sepertinya belum ada tindakan inspeksi mendadak dari pihak yang mengeluarkan peraturan untuk memantau bagaimana perkembangannya. Nah, pemanfaatan iklan layanan masyarakat pun sepertinya belum ada yang menyinggung tentang hal ini. Semoga hal ini tidak sekedar menjadi wacana saja ya. Jangan anggap remeh para pejuang ASI, mereka layak untuk dihargai. Keep writing, stay blogging....



Note : Ditulis Minggu dan selesai Selasa, hihihi...

Rabu, 07 Oktober 2015

YUK PEDULI LINGKUNGAN : TAS NON PLASTIK

Alhamdulillah, setelah sekian lama nge-hiatusin ini blog akhirnya saya memutuskann buat ngajak balikan aja daripada nganggur kan sayang blognya(bentuknya entah kenapa saya suka, walau mungkin agak alay) *udah biarin aja*. Tentunya setelah membersihkan tulisan-tulisan saya yang ternyata kurang saya banget. Sekarang juga mikir sih kalau misal saya mau nulis kok takutnya curhat *secara nggak sadar beneran mulai curhat*. Jadi kuantitas boleh, kualitas tetap dipertahankan gitu *seolah-olah ngerti tulisan berkualitas kaya apa :D*. Setidaknya tulisan saya bermanfaat buat diri saya sendiri, alhamdulillah kalau bisa bermanfaat buat orang lain. 

Saya tidak lagi single sekarang, yup walau pun belum dikasih kepercayaan buat nimang dedek unyu saya meniatkan diri untuk nyusulin suami ke kota dimana kami tinggal sekarang dan keluar dari pekerjaan saya yang sangat ekstrim (ahahahahai :P). Yuhu, saya baru sebulan ini merasakan perubahan euforia wanita karir ke pure house wife. Enak?sebuah keputusan pasti ada sisi hitam dan putihnya ya (jangan tanya mulu, resign aja tar bakal ngerasain kaya apa :D). Yang penting kita harus yakin dan pegang ini : LIVE THE LIFE YOU LOVE AND LOVE THE LIFE YOU LIVE.

Aktifitas harian saya bisa dikatakan padat walaupun memang saya masih free ya kalau suami berangkat kerja. Mulai dari bersih-bersih (nyuci, ngepel), nyetrika, belanja dan memasak. Selain itu saya juga suka ngegame, baca, nge-youtube, sambil nekunin hobi baru *psssssttt rahasia :D*. Nah kali ini saya bakal sedikit berbagi cerita tentang kesibukan saya yaitu belanja. Saya sebetulnya bisa dibilang unik (atas pengakuan suami saya), bahwa saya tidak suka berbelanja seperti umumnya para perempuan. But, ini sekarang menjadi kewajiban saya. Masa mau hak nggak mau kewajiban? *ke laut aja kali ya*.

Kalau dipasar sering liat ginian kan?


Seandainya gambar orang pada gambar diatas itu dihilangkan, maka gambar itu hanya akan terlihat seperti aliran arus sampah kantong plastik yang bermuara pada satu tempat yaitu tempat sampah (kecil), dan selanjutnya dialirkan lagi menuju TPA, atau dibakar, atau bahkan lebih parahnya dibuang ke sungai. Well, bermacam-macam cara untuk 'menikmati' bagaimana mengakhiri siklus sampah kantong plastik. Yang bijak banyak, yang nggak bijak jauh lebih banyak. Kalau kamu termasuk yang mana?

Baru-baru ini saya menyadari dengan sangat bahwa berbelanja menggunakan kantong plastik sudah terlalu mainstream. Hal ini juga dianggap sebagai salah satu bentuk penghargaan terhadap pembeli, berapapun nominal barang yang ia beli. Saya beli bumbu pecel seharga Rp 3.500,00 saja Ibu penjual dengan sangat ramah menyodorkan kantong plastik ukuran kecil untuk membungkus. Pindah ke tempat belanja lain saya kembali disodori dengan berbagai warna dan ukuran plastik yang membuat saya sering kerepotan membawanya ketika saya pulang. Bayangkan jika sehari saja saya berbelanja di enam tempat maka saya akan mendapatkan 'bonus' kantong sebanyak 6 pieces setiap hari. Jika setahun maka jumlahnya tak kurang dari 2.190 pieces kantong plastik. Ya, yang berujung di tempat sampah. Fantastis ya?Emang Murah sih, tapi dampaknya itu lho. Next time semoga saya bisa membahas tentang dampaknya dalam postingan tersendiri.

Nah per hari ini nih, saya bawa tas hermes *bohong* (Teh Rini kali bawa Hermes buat diisi kangkung). Ya, saya membawa goodie bag hasil 'ngais'dari boks-boks penyimpanan milik suami yang menyimpan barang-barang antik (baca : sudah tidak dipakai). Saya menemukan goodie bag dalam kondisi berjamur dan dalam kondisi terikat pita cantik, itu merupakan suvenir dari pernikahan salah satu teman suami. Buat teman-teman yang nanti akan membuat suvenir (nikah, ultah, atau tasyakuran) setidak-tidaknya walaupun tidak mahal suvenir itu memiliki manfaat ya, biar tidak mubadzir. Salah satunya seperti di bawah ini :


Kira-kira manfaat yang bisa saya rangkum dengan penggunaan goodie bag ini sebagai pengganti kantong plastik adalah  adalah sebagai berikut :
1. Praktis (tinggal masukkan semua barang belanjaan ke dalamnya, bolehlah kalo misal minta pembungkus koran kecuali untuk item-item tertentu seperti : minyak, beras dkk. Barang pun tidak akan tercecer).
2. Kuat (dibandingkan dengan kantong plasik tentu saja goodie bag jauh lebih memadai jika digunakan untuk membawa barang yang agak berat sekalipun, asalkan tidak over ya).
3. Trendy (coba mba-mba, kakak kakak pasti lebih pede kalau bawa goodie bag ketimbang kantong plastik kan?hayo ngaku :P)
4. Hemat (membantu pedagang mengurangi pengeluaran untuk pembelian kantong).
5. Ramah lingkungan (mengurangi limbah sampah plastik).

Nah, sekarang yuk mari kita mulai dari hal simpel  dan kecil buat ikutan nyeruin jargon : SAVE OUR EARTH. Kalau belum bisa menghilangkan budaya '6 kresek sehari' saya setidaknya saya bisa mengurangi limbah plastik di sekitar tempat tinggal saya. Buat kita, anak cucu kita, dan masa depan kita tentunya. Smart tidak harus mahal kaya smart watch atau smart phone yang sekarang lagi trend ya guys. Bisa juga dengan berpikiran sederhana namun berdampak besar dalam kehidupan. Tidak usah malu untuk memulai, toh pada akhirnya semua itu kembali kepada kita berikut manfaat atau pun akibatnya.






Kamis, 31 Mei 2012

RUSAK KEMASANNYA SEBELUM MEMBUANGNYA


Wanita seringkali menjadi objek kejahatan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab. Kini, kosmetik telah menjadi kebutuhan dasar bagi kaum wanita agar selalu tampil cantik. Namun demikian, maraknya peredaran kosmetik palsu perlu menjadi wacana khusus bagi kaum wanita. Tidak hanya yang harganya puluhan ribu, namun  kosmetik palsu juga merambah kisaran ratusan ribu rupiah. Dampak buruk dari kosmetik palsu sendiri terhadap kesehatan  sangatlah berbahaya. Mulai  dari dampak yang bisa langsung terlihat dan bersifat jangka pendek, sampai yang tidak terlihat secara langsung dan sifatnya jangka panjang. Dampak yang bisa langsung terlihat adalah adanya kerusakan pada jaringan kulit, bahkan diperparah sampai kanker kulit. Dampak jangka panjang tidak bisa langsung diidentifikasi namun juga tak kalah berbahaya yaitu rusaknya sistem saraf  dan kekebalan pada tubuh.
Tanpa disadari kita telah menyumbang modal utama bagi para oknum pembuat kosmetik palsu. Sebut saja  kemasan produk kecantikan yang kita pakai banyak dimanfaatkan oleh oknum tersebut karena kemasan dari produk dinilai masih bagus. Mereka membelinya dari pemulung atau pedagang pengumpul. Dan hanya dengan mencucinya ulang atau memberikan label baru yang telah mereka buat, kemasan tersebut tersamarkan dan banyak dari pemakai yang hampir tak bisa membedakannya dengan produk asli. Ide yang saya miliki untuk meminimalisir tindak kejahatan bermodus kosmetik palsu tersebut adalah dengan membuat kemasan bekas kosmetik yang telah habis terpakai menjadi cacat/ rusak (misalnya dengan sedikit saja melubanginya atau merusak tutupnya), sehingga dimungkinkan kemasan bekas produk  tidak bisa digunakan lagi dan hanya akan bisa didaur ulang. Hal ini saya duga akan mampu mengurangi tindak kejahatan tersebut.

Wanita seringkali menjadi objek kejahatan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab. Kini, kosmetik telah menjadi kebutuhan dasar bagi kaum wanita agar selalu tampil cantik. Namun demikian, maraknya peredaran kosmetik palsu perlu menjadi wacana khusus bagi kaum wanita. Tidak hanya yang harganya puluhan ribu, namun  kosmetik palsu juga merambah kisaran ratusan ribu rupiah. Dampak buruk dari kosmetik palsu sendiri terhadap kesehatan  sangatlah berbahaya. Mulai  dari dampak yang bisa langsung terlihat dan bersifat jangka pendek, sampai yang tidak terlihat secara langsung dan sifatnya jangka panjang. Dampak yang bisa langsung terlihat adalah adanya kerusakan pada jaringan kulit, bahkan diperparah sampai kanker kulit. Dampak jangka panjang tidak bisa langsung diidentifikasi namun juga tak kalah berbahaya yaitu rusaknya sistem saraf  dan kekebalan pada tubuh.
Tanpa disadari kita telah menyumbang modal utama bagi para oknum pembuat kosmetik palsu. Sebut saja  kemasan produk kecantikan yang kita pakai banyak dimanfaatkan oleh oknum tersebut karena kemasan dari produk dinilai masih bagus. Mereka membelinya dari pemulung atau pedagang pengumpul. Dan hanya dengan mencucinya ulang atau memberikan label baru yang telah mereka buat, kemasan tersebut tersamarkan dan banyak dari pemakai yang hampir tak bisa membedakannya dengan produk asli. Ide yang saya miliki untuk meminimalisir tindak kejahatan bermodus kosmetik palsu tersebut adalah dengan membuat kemasan bekas kosmetik yang telah habis terpakai menjadi cacat/ rusak (misalnya dengan sedikit saja melubanginya atau merusak tutupnya), sehingga dimungkinkan kemasan bekas produk  tidak bisa digunakan lagi dan hanya akan bisa didaur ulang. Hal ini saya duga akan mampu mengurangi tindak kejahatan tersebut.

Catatan : Ditulis dalam rangka "ide kreatif produk MIO FULLO"