Tampilkan postingan dengan label Curahan Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curahan Hati. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 September 2017

Pisang Coklat Simpel

Memasak adalah salah satu poin yang menjadi nilai lebih seorang ibu rumah tangga. Akan tetapi seorang ibu tidak lantas menjadi spesial di semua bidang bukan? Memasak pintar, menjahit pintar, mengurus rumah pintar, mengurus anak dan suami pintar. In my opinion : kalau bisa segala hal mungkin iya, tapi kalau semuanya bisa sempurna rasanya ibu akan menjadi sosok yang tanpa cela. Dan itu bukan saya, orang lain mungkin iya.

Siang ini saya menyelesailan membuat cemilan yang cukup simpel - pisang coklat. Tapi tidak sesimpel kelihatannya. Karena ada bayi satu tahun yang berusaha mencari-cari perhatian saya ketika saya sedang asyik sendiri. Lalu, ketika saya berhasil menenangkannya saya berpamitan untuk kembali ke dapur dia pun menyusul dengan riang. Mencoba meraih-raih kompor letaknya memang bisa ia jangkau. Dan itu kembali membuat saya terhenti beberapa saat.

Sebetulnya saya membeli kulit lumpia (instan) di mamang sayur sejak kemarin. Namun karena banyak hal yang harus saya kerjakan baru siang tadi saya eksekusi. Wah, cukup membuat kulit lumpia menjadi keras dan akhirnya harus saya kukus sebentar agar kembali lembut dan bisa saya gulung. Bermodal kulit 10pcs seharga Rp 1.500,- pisang kepok 4pcs Rp 2.000,- serta meses dan minyak goreng yang memang sudah tersedia membuat saya cukup bahagia. Sekali pun itu saya nikmati sendiri.

Semua pasti sudah bisa membuatnya bukan? Tinggal memotong pisang menjadi beberapa bagian, lalu mengisikannya kedalam kulit, menaburi dengan meses, menggulungnya, merekatkannya dengan tepung yang diencerkan. Kemudian finishing, goreng dalam minyak panas. Fyi, minyak goreng menjadi kecoklatan dan ada endapan coklat dibawahnya. Saya kemudian menyaringnya agar minyak itu bisa saya gunakan kembali.

Saya termasuk orang yang akan memasak jika mood saya baik. Oleh karenanya saya selalu mengupayakan mood saya baik ketika memasak. Kalau sudah lelah, saya akan memutuskan membeli. Bukan karena tidak mencintai keluarga melalui masakan, tentu saja saya mengupayakan hal lain. Misalnya : membaca buku kemudian membagikan cerita kepada suami saya. Bermain bersama anak saya sebagai bayaran mahal karena tidak memasak. Iya, saya seremeh itu.

Tempo hari, saya kena bully di sebuah grup karena saya bertanya hal remeh -menempelkan tepung roti ke risoles-. Ada mbak-mbak yang kemudian menasehati saya panjang lebar di forum, dan saya hanya mengiyakannya. Bagi saya memasak hanya sebagian yang perlu saya perhatikan. Ada bagian lain yang perlu saya perhatikan misalnya kebersihan rumah, kesehatan saya dan anak mengingat kami hanya tinggal berdua. Jadi untuk memasak hal sesimpel piscok bagi saya itu tidak simpel. Memasak harian iya, dan yang utama untuk si kecil. Jikalau saya lapar dan terpaksa tidak memasak, maka warung sebelah rumah menjadi jurus pamungkas saya.

Hidup itu simpel, sesimpel membuat piscok. Tetapi terkadang sudut pandang yang membuatnya tak simpel. Pengen makan piscok anak masih kecil dan belum memahami komunikasi dua arah yang saya bangun? Belilah jika memang ada uang. Jikalau tidak maka tahanlah beberapa saat, dan saat malam tiba eksekusi. Itu akan menjadi hal yang membuat kita bilang "worth it lah...". Menjadi ibu tidak semudah melahap sepiring makanan bertabur cabe bagi pecinta pedas.

Ini semacam self healing karena beberapa hari ini saya cukup lelah dan merasa butuh mengeluarkan uneg-uneg saya. Maaf jikalau tulisan ini sama sekali tidak bermanfaat. Ini sebagai jejak rekam bahwa saya sedang berusaha menyalurkan emosi saya melalui sebuah tulisan. Dan ini saya tulis guna memenuhi #3DAYS1POST saya. Terimakasih sudah berkenan membaca.

Sabtu, 19 Desember 2015

CURHAT : TEMAN JANGAN MARAH YA KALAU AKU TAK DATANG

Assalamu'alaikum dear shalihat...today is so cloudy like my face :-P. I want yo talking about something...this is it...
Ingat beberapa bulan lalu sohib saya curhat. "Kak, aku ngerasa didiemin dia ieg gara-gara nggak datang ke syukuran nikahannya dia." Saya hanya bisa berusaha menghibur dan ngasih solusi biar si sohib saya ini ngontak si sohibul hajat terlebih dahulu. Gimana reaksinya? Alhamdulillah belum jauh berbeda dengan setelah walimah. Masalahnya sih kalau dari awal sebelum walimah biasa aja dan nggak akrab sih nggak masalah ya. But kerasanya itu gegara dulunya 'plek' gitu istilahnya. Dengan sendirinya si dia sembuh dan kembali akrab dengan sohib saya. Memang, terkadang kita tidak bisa memahami semua isi hati dan pikiran semua orang. Bahkan orang terdekat kita sekali pun. Waktu juga yang mungkin akhirnya menyadarkan dan menyembuhkan. Entah siapa yang sadar, dan sembuh.
Saya juga lagi kena sindrom ngerasa dijutekin gegara nggak datang ke walimahan seseorang, but saya segera istighfar saja. Semoga hanya perasaan saya karena dia sedang malas melayani chat saya. Begitu hibur saya untuk diri saya sendiri. Semoga suatu hari dia bakal kembali baik, demi kebaikan dirinya sendiri. Well, ironis ya. Saya sudah pernah merasakan hal serupa. Dimana saya berharap teman-teman saya datang ketika saya undang ke acara saya. Namun apa yang terjadi? Ini bukan masalah berapa besar sumbangan yang saya terima. Tetapi prioritas mereka kepada saya dan kembali kepada kepentingan masing-masing dari mereka. Bukankah acara walimah sengaja dilakukan pada akhir pekan atau libur agar para saudara dan teman bisa sekedar menyempatkan hadir dan memberikan ucapan selamat secara langsung?
Jawabnya beragam lho ternyata. Banyak yang optimistis sekali bisa datang dan janji manis ke saya bersedia datang. Tapi tidak bisa datang. Saya maklum sekali, barangkali teman saya mendadak ada acara di tempat lain, atau (bukan bermaksud mendoakan) dia sedang udzur entah sakit atau terkena musibah. Entah memang rejeki mereka sedang tidak berlebih. Bayangkan dear misalkan seseorang dengan gaji 2-3 juta sebulan. Dalam hari itu ada tiga buah undangan yang datang. Dan nyata-nyata kenal baik semua. Ada yang diluar kota ada yang di dalam kota. Kira-kira sumbangan untuk tiap orang seratus ribu saja, dibuat minimal. Sudah tigaratus ribu, belum lagi jika kita ada di luar kota dan mengharuskan ia membayar uang transport lebih dari biaya sumbangan?masih setega itukah kita berprasangka kurang baik terhadap teman kita sendiri?Mari sama-sama beristighfar dear.
Belum lagi mereka yang sudah berkeluarga, bahkan memiliki anak dan belum punya kendaraan yang nyaman untuk mengajak serta keluarganya untuk sekedar menyambangi tempat kita. Apakah kita akan tetap memaksa mereka naik transportasi umum yang membuat mereka kepayahan? Lalu pikirkan juga mereka yang bekerja dan sabtu minggu adalah quality time bagi mereka dan keluarga. Harus mudik atau apa pun yang hanya mereka bisa lakukan di weekend. Masih mau berbahagia di atas upaya keras orang lain bahagia demi kita?
Sudahi ya dear. Semoga kita lekas dewasa dalam segala hal. Setidaknya ketika orang tidak datang, nominal atau bingkisan datang. Setidaknya jika nominal atau bingkisan tidak datang, doa terbaik (dalam diam) itu datang. Setidaknya jika dia tidak datang, tidak mampu memberikan apa pun, atau doa terbaiknya. Jangan lah kita melakukan hak yang sama hanya karena dendam atau hanya balas budi. Ini benar-benar murni catatan pribadi dan reminder untuk saya yang masih sering merasa belum lapang untuk datang ke walimahan. Maafkan segala ketiadaberdayaan ini teman-teman. Semoga bukan hanya di lisan dan hanya menjadi sebuah catatan. Semoga ada hikmah di dalam perenungan ini. Aamiin.
Wassalamu'alaikum...

Selasa, 15 Desember 2015

CURHAT : BANYAK ORANG BAIK, TAPI SEDIKIT YANG MENEBAR KEBAIKAN

Assalamu'alaikum shalihat. How're u today?hope u're better than tommorow...aamiin.
Subuh waktu Banyumas adalah 03.58 menurut aplikasi di handphone saya. Bisa dipastikan mulai jam segitu hingga menit-menit berikutnya adzan terdengar bersahutan. Indah sekali, masyaAlloh konon adzan itu menjadi suara yang tak pernah putus seiring bumi berputar. Keren sekali bukan?

Sering dengar tidak adzan itu dikumandangkan oleh orang yang sudah 'sepuh' sampai suara beliau terdengar 'mblero'?atau adzan dikumandangkan oleh orang yang baru belajar tapi dengan kesadaran dan semangat penuh? Bisa dipastikan suaranya keras namun cengkok adzan versi Indonesianya masih belepotan. Saya jujur miris sekali, para pemuda muslim seharusnya menonton kisah perjuangan Bilal Bin Rabah sekali saja bukan hanya menjamuri bioskop dan menonton film action yang sedang menjadi trend. Tentu saja adzan bukan trend layaknya film. Tapi film itu inspiring sekali kalau menurut saya. Sempatkan tonton ya.
Lalu kemana perginya lelaki muslim bersuara merdu itu?Tempat karaoke, panggung hiburan, festival musik, ajang pencarian bakat dan lain sebagainya yang berbau entertainment. Tentu saja terlihat lebih, lebih, dan lebih keren (dimata manusia). Lalu pernah tidak mereka adzan sekali saja di mushola atau masjid dekat rumah tinggal mereka?Mungkin ada tapi segelintir saja. Saya pernah baca salah satu quotes entah dimana *agak lupa* bahwa di dunia ini banyak sekali orang baik, tetapi sedikit yang menebar kebaikan. Lalu bagaimana dengan saya *tonyor keras diri*?kita(keluarga, partner of life dan orang terdekat)?dan kalian? Yuk buka hati kita untuk menyampaikan kebaikan walau pun hanya sekelumit. Mengajak orang terdekat kita untuk makan dan minum sambil duduk dan dengan tangan kanan juga suatu kebaikan bukan? Mari jadi orang baik yang senantiasa menebar kebaikan. Mari terus belajar memperbaiki kualitas diri. Sekian. Wassalamu'alaikum....
Keep writing, stay blogging.

Kamis, 10 Desember 2015

CURHAT : BERSYUKUR INDAH, BERBAGI BERKAH

Assalamu'alaikum shalihat. MasyaAlloh udah hari kamis aja *seolah2 kerepotan sampe lupa hari*. Gimana kabar kalian?Semoga selalu dalam lindungan Alloh ya, aamiin. Gini nih hari ini saya mau curhat, *mama curhat dong :-p, bukan mama minta pulsa apalagi saham lho ya :-D*
Pas di Bandung saya dan suami hobi banget beli buah mangga. Hampir tiap dua hari sekali kami beli mangga dan pepaya. Ya, dua pieces aja sih. Rasanya nikmat gitu ya makannya. Karena kayanya sih jumlahnya sedikit, jadi agaknya masih agak-agak kepengen tapi nunggu besok gitu deh baru beli lagi. Biar fresh aja sih alasannya bukan pelit lho ya :-D.
Nah, pas disini suami saya beli mangga kurleb dua kilo gitu entah kapan sampai lupa saya. Masuk kulkas berhari-hari nggak habis-habis. Nah, Emak saya dari kampuang nan jauh di mato nengok saya juga bawa mangga hasil metik kebun kurleb lima kiloan gitu masih aja numpuk dan belum tersentuh. Astaghfirullah...
Rasanya saya menyia-nyiakan makanan dan disitu saya kepengen sekali punya tetangga yang bisa saya bagi makanan. Tapi karena saya baru dan memang blok saya terkenal paling 'anteng' makanya saya jarang sekali liat ibu blok saya nongol di depan rumah. Kira-kira siapa yang sudi maen ke rumah kontrakan saya ya?saya kasih mangga deh, gratis :-D

Saya mengingat betul ketika makan tiap gigitan mangga pas jumlahnya terbatas itu. Sedikit tapi nikmat. Ah, sudahkah saya bersyukur seperti hadits dibawah ini?
"Barangsiapa yang tidak mensyukuri nikmat yang sedikit, maka ia tidak bisa mensyukuri nikmat yang banyak."(H.R Ahmad)
Bagaimana seharusnya saya mensyukuri nikmat mangga yang membludak ini?ah, sepertinya caranya harus lain ya. Harus dibagi-bagi. Berkurang jumlah mangga, bertambah kebahagiaan saya karena mengurangi pemubadziran kalau-kalau sampai mangga itu busuk. Wassalam...muach...sekian curhat hari ini pemirsa. Keep writing, stay blogging...

Rabu, 09 Desember 2015

CURHAT : MAKE YOUR OWN SPACE

Assalamu'alaikum shalihat. Hai, hari ini kalian libur kan?suami saya tidak *curhat*. Alhamdulillah ditemenin sama Ma'e saya beberapa hari ini jadi nggak begitu kesepian. Alhamdulillah juga banyak sekali makanan di rumah jadi nggak takut kelaparan kalau lagi nggak mau 'deketin' nasi. Ma'e jauh-jauh datang demi menengok si bontot yang sudah tak unyu lagi. Bawa banyak makanan khas rumah kami yang sederhana tapi sarat makna *hish kalau ini mah lebay*. Pisang tanduk, lupis raksasa, rambutan, sama kerupuk pasir. Alami ya?iya, demi mendukung program food combining saya *boong*.

Nah, pernah nggak ngerasa bosan dengan aktifitas harianmu? Bekerja atau sekolah misalnya. Rasanya sih semua orang pernah merasakannya ya, termasuk saya ketika menjadi pelajar hingga waktu bekerja. Pun ketika sekarang saya 'free', dan hanya menjalankan proyek rumahan. Kok bisa ya? Bisa dong, jika diibaratkan pikiran kita itu seperti air keruh yang terus diaduk dengan mengikuti pusaran tertentu. Nah, nggak akan kunjung jernih bukan? Sebetulnya mudah saja kok caranya. Tinggal endapkan saja air keruh atau pikiran kita beberapa saat. Saring semua yang masuk ke pikiran kita, pahami hikmah setiap aktifitas kita, dan netralkan perasaan kita tentang apa pun yang membuat kita merasa bahwa apa yang kita jalani itu tidak menghasilkan. Kalau lelah pikiran begitu.

Bagaimana jika lelah fisik?sebetulnya lelah fisik justru lebih mudah ditangani lho. Istirahat atau tidur insyaAlloh keesokan harinya bisa fresh kembali. Nah, kalau yang paling ekstrim sih lelah hati *hihihi* mungkin karena terlalu baper. Susah ditangani tapi bisa kok walau pun mungkin memakan waktu yang lebih lama. Caranya sih kalau saya pribadi dengan meningkatkan kadar kualitas diri. Caranya?lebih sering 'pedekate' sama Alloh, lebih banyak membaca, kalau memilih jalan-jalan lebih banyak tadabur, bertemu dengan komunitas yang membangun. Begitu aja sih ya. Just simple to do insyaAlloh, kalau saya sekarang ngerasa beda sama yang dulu suka baper. Entah kenapa, Alhamdulillah Alloh kasih manajemen yang cukup baik sehingga saya memang heboh di luar. Tetapi saya bisa mengontrol agar tidak terlalu bahagia, pun jangan terlalu berduka cita. Wallahu'alam...
Sekian dulu ya. Keep writing, stay blogging...

Jumat, 04 Desember 2015

CURHAT : SIMPONI KATAK

Assalamu'alaikum. Alhamdulillah nemu cara buat nge-blog juga, pernah install blogspot di hape but aku un-install karena memori penuh plus nggak bisa cara ngatur letak-letak aplikasi biar nggak penuh di hape itu gimana. *Hehehe...gaptek sama males belajar beda tipis* 
Hari ini adalah hari ke sekian aku pindah, ya sabtu kemarin (tepatnya 28-11-2015) aku diboyong suamiku ke kota Satria, Banyumas. Fyi ya, Purwokerto sama Banyumas yang sebenernya wilayah dati II adalah Banyumas. Jadi nggak apa-apa ya kalau Banyumas yang ku sebut. Beda banget ini mah wilayah tempat tinggal kami sekarang dengan yang dulu. Dulu kami tinggal di jantung kota, sekarang kami tinggal di ring road dan wilayah pesawahan yang disulap menjadi 'hutan' perumahan. Alhasil bonus suara-suara alam yang ku rindukan datang kembali sebagai musik pengantar tidurku. Udaranya sejuk (bukan buatan), Yey! Jalan depan rumah lebar sekali. Rumahnya alhamdulillah entah berapa kali luas kamar (kost) kami di Bandung. MasyaAlloh, semoga janji kehidupan yang lebih baik kami dapatkan disini. Aamiin.

It's just about my warming up exercise to write better...Stay Blogging...!

Jumat, 27 November 2015

CURHAT : SAMPAI JUMPA BANDUNG

Alhamdulillah hari ini bisa memaksakan diri untuk bangun lebih pagi, berhasil mengalahkan rasa kantuk yang akhir-akhir ini sangat berlebihan. Hari ini adalah hari terakhir saya stay di Bandung. Big Thanks to Allah yang telah mengijinkan saya untuk tinggal setidaknya selama tiga bulan ini. Mengingatnya akan membuat saya menitikkan air mata sekaligus terharu karena berhasil melewati satu step yang sangat berarti dalam hidup saya ini. Ah, meski hidup saya di Bandung jauh dari kata mapan untuk mengikuti gaya hidup tetapi Allah menjamin hidup saya selama tiga bulan ini melalui suami saya. Sekeloa, Monumen, Kawasan Unpad, Kawasan Kaki Lima sekitar monumen, Pasar Minggu Gasibu...and all of sweet moment that i get...

Saya resign per 31 Agustus 2015 dari sebuah bank syariah yang saat ini sedang sangat berkembang di Indonesia. Suami saya efektif dipindahkan ke kota dimana saya pernah menetap selama kurang lebih satu setengah tahun lalu per 01 Desember 2015. Di kota mana kira-kira kami akan menghabiskan waktu tiga tahun berikutnya?Yes, di kota Purwokerto. Saya mengingat betul ketika saya berangkat ke Bandung pada 29 Agustus 2015, saya menitikkan air mata sembari berujar ke kawasan terminal Bulupitu (terminal kota Purwokerto). Lirih namun yakin saya berujar "Ijinkan suatu saat saya kembali kesini dalam kondisi yang lebih baik(dari sekarang)." Lagi-lagi Allah yang maha baik mengabulkan doa saya tidak lebih dari tiga bulan kemudian. Semoga memang ada ada hal yang lebih baik yang bisa saya dapatkan dari kota ini. Aaamiin.

Sampai jumpa Dago, Pusdai (tempat dimana beberapa kali ahad saya habiskan untuk mengikuti kajian dhuha), Tobucil dan Crayon (tempat saya menanam mimpi untuk membuka tempat yang sama menginspirasinya), Jalan Asia Afrika dan Braga serta kawasan cikapundung yang sangat cozy buat jalan-jalan (bener-bener jalan) untuk sekedar flasback ke masa lalu bersama bangunan tuanya, kawasan wisata nan sejuk di Lembang, kawasan wisata belanja Paris Van Java, Pasar Baru, BIP, dan masih banyak lagi, Gedung sate yang baru sadari keindahannya ketika malam hari, Romantisme dan kesejukan yang tidak saya dapatkan di tempat lain...Terimakasih. Dan sampai jumpa dalam kondisi yang jauh lebih baik.


Minggu, 08 November 2015

CURHAT : TENTANG DIKABULKANNYA DOA

"....Semoga amal ibadah beliau diterima disisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan untuk menjalaninya..."

Pernah nggak teman-teman ngirim atau malah dapat pesan seperti ini?semua setidaknya pernah mengirim ya kalau misal belum pernah sama sekali menerima pesan (bbm, wa, atau sms dll) seperti diatas. Nah kira-kira kali ini saya bakal nge-bahas apa ya. Yes, saya pengen nge-bahas tulisan yang sudah saya underline diatas.


Berapa kali sih kita berdoa setiap harinya?(selama 24 jam = 1440 menit = 86400 detik) tidak kurang dan tidak lebih ya?Mungkin jawabannya bakal beragam. Tergantung kebutuhan mungkin, situasi atau kesibukan(baca : jadi doanya nggak bisa panjang, karena kata salah satu teman saya Allah maha tau jadi nggak perlu panjang yang penting poinnya). Pertanyaan selanjutnya yang saya ajukan adalah apa sih isi doa yang kita panjatkan?macam-macam lah, tergantung kebutuhan, keinginan dan cita-cita.

OK, saya sih nggak tau teks masing-masing orang doanya seperti apa. Tergantung kebutuhan tadi, contoh : ada yang minta jodoh, dijauhkan dari siksa dunia dan akhirat, diberi kesehatan dan umur panjang, kelancaran dan keberkahan rejeki (dan banyak lagi kebaikan yang sering kita ajukan) yang bisa ditujukan untuk diri kita sendiri, orang tua, saudara, sahabat dan semua yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Dari semua doa pernahkan kita berdoa semoga amal kita diterima?Jawab jujur apa bohong nih?Jujur ya.


Jujur, saya pribadi mangakui banyak meminta namun sering tidak peduli faktor apa saja yang menjadi tabir doa saya *Mari  Belajar pangkat 2000*. Jujur ?(lagi) saya banyak berdoa namun sering terlupa bahwa amalan saya pun tidak serta merta langsung diterima Allah karena beberapa faktor pula walau pun diiringi doa, *Gimana dengan amalan saya yang kemarin-kemarin ya, saya nggak doa agar amalan saya diterima*. Wallahu'alam bis showab. Jadi poinnya adalah Jangan lupa berdoa untuk hal satu ini (amalan diterima), sekalipun Allah memang maha tau, tidak ada salahnya kita mengiringi seluruh amalan kita dengan doa. Semoga doa kita menjadi pelicin agar amalan kita sampai ke Allah. Aamiin. Jangan menunggu hingga orang lain mendoakan kita seperti tulisan diatas. Dan untuk yang terakhir kali (pula). Semangat, makin sehat, smart dan shalihat. Muach :*

Catatan : Ditulis dalam rangka Self Assesment sekaligus Self Reminder tingkat dewa.

Jumat, 06 November 2015

CURHAT : ABOUT RESIGN DAN MIMPI UNTUK TETAP BERPENGHASILAN

Ini sudah lewat satu pekan ketika saya harus merayakan  ‘second month of resign anniversary’ saya dari tempat saya bekerja. Ada nggak ada istilah itu ya pokoknya saya ada-adakan saja *maksa banget*. Rasanya sih nggak gimana-gimana. Positifnya nih ya (pertama) saya bisa mengerjakan pekerjaan yang dulu semasa sudah menikah tetapi masih LDR-an sama ‘mantan pacar’, saya enggan bahkan mengandalkan asisten rumah tangga untuk menyelesaikannya. But, untuk sekarang saya harus mengerjakannya dengan sigap, cermat dan penuh rasa tanggung jawab. SENDIRI. Yang (kedua) Menikmati waktu luang dengan sekonyong-konyongnya. Dan karena  saya adalah tipikal orang yang suka nge-game dan suka kelewatan, dulu sempat pernah kena tegur juga lho sama atasan dan salah satu staf saya karena hobi saya itu. Sekarang saya dihadapkan pada waktu luang yang amat sangat banyak. Nah katakanlah saya kelar mengerjakan pekerjaan saya pukul 11.00 siang, sisa waktu saya ini bisa saya gunakan untuk nge-game sepuasnya. Tapi setelah saya rasakan bosan juga ya, akhirnya saya mengalihkan hobi saya yang nggak ngasilin duit itu dengan belajar nulis, baca buku, merajut dan juga nonton tivi, pkus BONUS bobok siang (pas dulu kerja, rasanya pengen banget bobok siang tapi nggak bisa).Yang (ketiga) Quality time sama Raden Yoga Nata Adhikara jadi bisa SELALU. Dulu tiap dua pekan sekali baru ketemu, cuma dua hari (dikurangi waktu perjalanan) cukup membuat saya termehek-mehek pas adegan naik bis kotanya. Ya, macam adegan FTV-FTV gitu deh, dipastikan dia tersenyum amat manis sedangkan saya mewek sampai bis berangkat dan sampai saya terlelap di dalam bis *pengakuan dosa*. Yang (keempat) bisa belajar memasak dengan serius karena setiap sore masakan saya akan dinilai oleh si Akang. Ya, tentu saja mengandalkan google dan screenshoot (kalau kapan-kapan lupa resepnya tinggal saya buka lagi hasil googlingan saya gitu maksudnya. But, nggak apa-apa kan belajar.
Negatifnya adakah? Ya bukan negatif sih ya. Penyesuaian aja dari wanita bekerja di kantor ke wanita bekerja di dalam rumah (jangan kira ibu-ibu atau istri-istri nggak capek lho ya). (Pertama) Rasa percaya diri agak berkurang dari wanita berpenghasilan pasti, ke wanita berpenghasilan musiman. Dari biasanya rapi dan wangi setiap hari, sekarang wanginya justru kalau sore hari. But, saya sudah bisa mengatasinya caranya gimanabiar tetap berpenghasilan?Terampillah wahai para kaum wanita apapun pekerjaanmu sekarang. Entah memasak, menjahit, merajut, berjualan, menulis dan lain-lain dan semoga someday ketrampilanmu itu bermanfaat bisa jadi usaha tambahan, atau malah jadi usaha utama. Kalau kata mba Dian Sastro “Mau berprofesi menjadi wanita karir atau ibu rumah tangga wanita tetaplah harus berpendidikan tinggi.” Karena apa?tugas utamanya adalah mencerdaskan anak-ananknya kelak. Kalau versi saya, jika mau memilih jadi ibu rumah tangga upayakan untuk bisa tetap berkarya (di dalam rumah) dan tetap berpenghasilan. Bukan bermaksud untuk menandingi suami, tetapi justru untuk belajar mandiri dan membantu suami. Katanya multitasking kan?buktikan donk. (Kedua) Nikmat yang menurut saya paling susah dikendalikan adalah waktu luang, jangan-jangan waktu saya terbuang sia-sia karena saya tidak membuat Daily List To Do seperti ketika saya berkerja. Pasti, but saya sudah bisa menyiasatinya. Jadi boleh donk istri-istri atau ibu-ibu bikin daily list to do?boleh banget. Menurut saya itu sangat membantu. Selain jelas apa saja yang akan kita kerjakan, ada juga estimasi waktu jadi harapannya sih tidak ada kata wasting time. Kalau itu terlalu ribet gunakan target waktu saja, misal saya harus selesai mengerjakan pekerjaan rumah jam sekian-dan saya akan mengisi sisa waktu saya dengan bla bla bla. Cukup simple kok dan bermanfaat sekali. (Ketiga) Harus nge-rem hobi jajan dan belanja *nyesek, kalau dulu suka jajan sekarang makan yang banyak biar nggak laper dan  kepengen jajan*, begitu ada baju bagus tanya harga iklanin (dimana aja) dan jual, kalau ada uang lebih baru boleh beli. Syukur-syukur kalau misal laba jualan bisa buat beli, jadi itung-itung reward buat diri sendiri karena tidak lagi menerima insentif dari perusahaan. (Keempat) dicecar pertanyaan beragam oleh pihak internal atau pun eksternal. Ah, itu mah udah biasa. Kalau udah menthok mah yang tanya juga bosen sendiri, udah solusinya Cuma satu #SENYUMINAJAH.
Kira-kira begitu saja curhatan gaya bebas ala saya. Nah, ambil semua hikmah dari setiap kejadian karena yakinlah bahwa hikmah nongolnya di belakang kalau yang di depan mah namanya planning, dan sekali lagi kita merencanakan Allah maha cinta-lah yang akan menentukan. Kita harus yakin dengan keputusan yang kita ambil. Positif-Negatif pasti menyertai kok, tinggal ambil bagian positif dan siasati negatifnya. Cara pandang dan rasa syukur sangatlah berpengaruh, jadi belajarnya memandang setiap kejadian dari sudut pandang yang berbeda. Dan jangan lupa bersyukur dan bahagia, karena hidup ini hanya sekali dan kita berhak menikmati hidup kita dan bahagia. HAPPY 2ND MONTH ANNIVERSARY. Stay Healthy, and blogging.



Rabu, 21 Oktober 2015

CANTIK DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Hari ini  sembari nyetrika saya nyimak acara TV (hal yang sangat langka) karena biasanya TV di monopoli oleh suami di pagi hari dengan menonton acara favoritnya yang tidak lain dan tidak bukan adalah  SPONGEBOB SQUARE PANTS . Saya sangat takjub dengan wajahnya yang sampai terlongo-longo menyaksikan aksi konyol dari tokoh kartun yang diangkat dari perwujudan sabut cuci piring itu. Well, menurut saya nggak banget(kapan-kapan saya bedah deh kenapa kartun itu begitu digemari, wkwkwkw). Sangat kontras dengan kondisi semalam dimana wajahnya menyimak data statistik Perbankan Indonesia sambil mendengarkan yang saya pikir itu adalah musik, ternyata adalah recording hasil presentasi mantan kepala kantor Pusat BRI yang baru-baru ini ia ceritakan kepada saya. Wahai suamiku kamu lucu dan menggemaskan sekali. Sudah-sudah ini bukan melodrama atau drama korea.

Nyambung yang tadi ya, acara TV yang saya simak hari ini adalah sebuah kajian yang mengangkat tema cukup menarik. Temanya adalah mengenai kecantikan, dan bagaimana isu kecantikan yang sekarang ini sedang marak disorot dari sisi agama Islam. Komentator dari dunia selebritis ada Mba Andi Soraya dan Mba Soraya Larasati (keduanya sama-sama Soraya). Acara ini diisi oleh Ustadzah Qurrota 'Ayun. Ada juga bintang tamu sekaligus pelaku (bedah kecantikan) yaitu Mba Ratu Metta. Dan yang nggak kalah cetar yaitu rombongan Ibu-ibu majelis taklim dari seluruh Indonesia yang mengenakan baju warna-warni yang semakin membuat acara ini semarak. Komplit ya. Oh iya, satu-satunya lelaki tampan yang tersorot kamera adalah host dari acara ini adalah Kak Bobby. Sudah lengkap ya?

Dalam kajian kali ini Ummi ‘Ayun (begitu beliau akrab di sapa) menjelaskan bahwa setiap manusia terlahir sempurna dan indah. Semua membawa kekurangan yang sudah barang tentu dilengkapi pula dengan kelebihan yang melekat pada diri setiap individu. Pun dengan perempuan, ia terlahir cantik dengan versi masing-masing. Ada yang berhidung tidak terlalu mancung tetapi tetap cantik, ada yang bergigi ‘gingsul’ tapi menambah manisnya, serta ke-khasan masing-masing individu yang tidak ada satupun yang serupa di dunia ini. Dan semua sudah diciptakan Allah secara seimbang. Beliau pun mengutip sebuah ayat dari kitabullah yang berbunyi :

“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS At-Tin : 4)

Nah, selang beberapa menit setelah beliau menjelaskan tentang bagaimana keindahan fisik manusia beserta bagaimana cara mensyukurinya ditampilkanlah slide-slide tentang seseorang yang telah mengubah beberapa titik di wajahnya dengan sulam bibir, sulam alis, tanam benang, dan tarik wajah yang tak lain adalah Mba Ratu Metta. Motivasi Mba Metta dalam melakukan ‘revisi’ terhadap ketidak puasan atas ciptaan Allah itu adalah dorongan dari sang calon suami. Yah, baru jadi calon pemirsa. Yang langsung disambut agak sarkatis oleh Mba Andi Soraya sebagai komentator. Beliau (Mba Andi) berkata “mba Metta yang masih cantik dan muda saja diminta tarik-tarik wajah demi dia. Gimana nanti kalau wajah mba sudah nggak bisa di tarik-tarik?apa dia bakal ninggalin mba demi yang lain?”.

Mba Metta pun akhirnya menjawab dan mengakui bahwa beliau pun melakukan ini karena dasar suka dan ingin tampil lebih cantik (jadi memang atas permintaan calon suami, dan beliau mengiyakan) bukan atas dasar paksaan. Dari sisi Mba Soraya Larasati ( sebagai komentator ke dua), beliau lebih slow dalam menanggapi “Jika itu permintaan suami sih nggak apa-apa menurut saya (beliau menyebutkan hadits yang terbatas pada nama perawinya saja yaitu Imam Nawawi tanpa menyebutkan redaksi dan beliau pun mengakui sumbernya hanya terbatas dari internet).” Mba Metta pun kemudian meminta solusi dan pandangan atas apa yang sudah dilakukannya kepada sang empunya acara. Ummi ‘Ayun pun  kemudian membacakan sebuah hadits yang bunyinya demikian :

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, “Allah melaknat tukang tato, orang yang ditato, al-mutanamishah, dan orang yang merenggangkan gigi, untuk kecantikan, yang mengubah ciptaan Allah.”
(HR. Bukhari , Muslim, dan mutaffaqun alaih).

Beliau sebagai nara sumber sangat tegas dalam menerangkan bahwa memang tidak boleh merubah ciptaan Allah dalam bentuk apa pun(baik permanen maupun non  permanen). Kecuali untuk case tertentu (misal : karena sebuah kecelakaan seseorang mengalami bibir sumbing maka justru itu wajib dioperasi karena demi kemaslahatan, contohnya ketika membaca Qur’an).  Bahwa Allah sudah menciptakan kita dengan sebaik-baiknya penciptaan. Lalu apa kabar dunia yang sekarang ini dipenuhi dengan tindakan bedah kecantikan yang sudah dianggap mainstream itu?Wallahu ‘alam. Memang benar Islam datang dalam kondisi terasing dan akan pergi dalam kondisi terasing pula. Orang taat dianggap fundamental. Orang ikut-ikutan justru semakin banyak followernya. *miris*

Saya kemudian mengingat bahwa ketika saya menikah saya terpaksa dicukur alis, bulu wajah, dan memakai bulu mata(rasanya kepengen nangis sepanjang hari itu, karena alis saya hilang serta bulu mata palsu berat sekali). Semoga itu terus menjadi pelajaran sekaligus reminder buat saya. Saya juga bukan manusia sempurna dan menabur dosa dimana-mana. Tetapi saya mengiyakan pendapat Ummi ‘ayun bahwa semua orang tentulah pernah melakukan dosa tetapi kembali bagaimana kita menyikapi itu selanjutnya. Hidup harus terus berlanjut bukan? Yang sudah kita tutup, yang belum mari kita tingkatkan ilmu pengetahuan. Yey, atas nama ILMU PENGETAHUAN. SEMANGAT. Terus berkarya, menulis, dan menjadi blogger yang bermanfaat. Salam…