Tampilkan postingan dengan label Sudut Pandang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sudut Pandang. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Desember 2015

CURHAT : BERSYUKUR INDAH, BERBAGI BERKAH

Assalamu'alaikum shalihat. MasyaAlloh udah hari kamis aja *seolah2 kerepotan sampe lupa hari*. Gimana kabar kalian?Semoga selalu dalam lindungan Alloh ya, aamiin. Gini nih hari ini saya mau curhat, *mama curhat dong :-p, bukan mama minta pulsa apalagi saham lho ya :-D*
Pas di Bandung saya dan suami hobi banget beli buah mangga. Hampir tiap dua hari sekali kami beli mangga dan pepaya. Ya, dua pieces aja sih. Rasanya nikmat gitu ya makannya. Karena kayanya sih jumlahnya sedikit, jadi agaknya masih agak-agak kepengen tapi nunggu besok gitu deh baru beli lagi. Biar fresh aja sih alasannya bukan pelit lho ya :-D.
Nah, pas disini suami saya beli mangga kurleb dua kilo gitu entah kapan sampai lupa saya. Masuk kulkas berhari-hari nggak habis-habis. Nah, Emak saya dari kampuang nan jauh di mato nengok saya juga bawa mangga hasil metik kebun kurleb lima kiloan gitu masih aja numpuk dan belum tersentuh. Astaghfirullah...
Rasanya saya menyia-nyiakan makanan dan disitu saya kepengen sekali punya tetangga yang bisa saya bagi makanan. Tapi karena saya baru dan memang blok saya terkenal paling 'anteng' makanya saya jarang sekali liat ibu blok saya nongol di depan rumah. Kira-kira siapa yang sudi maen ke rumah kontrakan saya ya?saya kasih mangga deh, gratis :-D

Saya mengingat betul ketika makan tiap gigitan mangga pas jumlahnya terbatas itu. Sedikit tapi nikmat. Ah, sudahkah saya bersyukur seperti hadits dibawah ini?
"Barangsiapa yang tidak mensyukuri nikmat yang sedikit, maka ia tidak bisa mensyukuri nikmat yang banyak."(H.R Ahmad)
Bagaimana seharusnya saya mensyukuri nikmat mangga yang membludak ini?ah, sepertinya caranya harus lain ya. Harus dibagi-bagi. Berkurang jumlah mangga, bertambah kebahagiaan saya karena mengurangi pemubadziran kalau-kalau sampai mangga itu busuk. Wassalam...muach...sekian curhat hari ini pemirsa. Keep writing, stay blogging...

Selasa, 17 November 2015

CURHAT : MENANGGAPI, BUKAN BEREAKSI

Hai, apa kabar kakak cantik?yang ganteng nggak perlu disapa tar dikira saya kecentilan!!! =D. Kali ini saya kepengen nulis tentang gimana sih menanggapi bukan bereaksi dan apa maksudnya?kayanya berat deh bahasannya *emang, saya juga jadi ngantuk asli!!!* . Tidur aja yuk, kelarin dulu baru boleh tidur (ngomong sendiri di jawab sendiri). Ini sih berdasarkan kasus yang beberapa kali pernah  saya alami jadi pure tidak melibatkan disiplin ilmu apa pun *kayanya sih dikit-dikit aja bakal diselipin teori-teori non phytaghoras tentunya sebagai  hasil pertapaan saya selama beberapa tahun*. Yah, soalnya kapan lagi bisa pakai opini saya kalau nggak di blog ini (asal nggak  ngawur dan menyinggung isu SARA) .

Seorang teman (baca : teman hidup) bercerita bahwa saat ini dia sedang mengalami dilema (ciyee, fansnya cherrybell *yang udah bubar* ya mas-nya? =P) dalam mengambil sikap dan dia kepengennya saya jawab pakai tulisan bukan lisan (biar lebih terkonsep katanya, plus nggak ngomel-ngomel bonusnya). Begini ceritanya : Biasa kan kalau di lingkungan (kantor, sekolah, kuliah deelel) selalu ada kelompok (kecil) tertentu yang terbentuk secara alamiah meskipun itu satu kelas,  jurusan, atau divisi. Tetap aja ada satu dua hal membuat seseorang lebih nyaman dengan seseorang (lainnya). Jadi simpelnya sih  temen sepermainan gitu (bukan geng-gengan lho ya). Usut punya usut salah satu anggota kelompok bermain (Nggak nyangka, orang usia pada  mau kepala tiga juga masih punya kelompok bermain kaya PAUD =D) dari temen sepermainan Abang saya tiba-tiba dijauhi oleh teman lainnya hanya karena ada masalah intern dua anggota di dalam kelompok itu. Why?pasti ada sebabnya, cuma saya sensor (tiiiit). Nah, abang saya ini dilanda GeGaNa (Gelisah Galau Merana, yaudah sih bang goyang dumang aja) mau ikut-ikutan (nge-jauhin si do'i juga) apa nggak?

SAYA JAWAB YA ABANG SAYANG "JANGAN DIIKUTIN."  (ini udah pakai tulisan paling gede lho abang, kalau masih kurang jelas plis deh, ganti kacamata ya kalau gajian :*)

Kenapa?
1. Ketika kita memihak satu orang dan kita tidak betul-betul mengerti permasalahan kedua orang itu seperti apa maka kerugian tentu saja ada di pihak kita. Kehilangan satu teman.
2. List kebaikan dan keburukan teman yang kita benci itu, kalau banyakkkan baikknya dan kita tetep memutuskan untuk benci sama halnya kita yang bego'.
3. Nggak perlu jadi superhero, pun nggak perlu sejahat itu. Dibaikkin enak, dijahatin itu sama sekali nggak enak.
4. Nggak perlu takut dibenci temen yang lain gara2 nggak ikutan nge-benci satu orang yang dianggap salah melulu itu, toh pada akhirnya kamu bakal nilai sendiri gimana kualitas temen2 main kamu yag merasa paling benar sedunia itu.
5. Nggak perlu repot2 ngurusin orang lain, urusan sendiri aja nggak kelar2.

Begini ya mas, maafkeun saya nggak ada wise-nya sama sekali kali ini. Coba deh pahami judul tulisan saya ini. Belajarlah menanggapi, bukan berekasi. Itu bisa sangat luas artinya, bisa ditafsirkan dengan berbagai macam penjelasan dengan kata yang sangat amat bijak, yang tentunya bisa kita uraikan sendiri. Salam sayang penuh cinta dari teman (hidup)mu.

Jumat, 06 November 2015

CURHAT : ABOUT RESIGN DAN MIMPI UNTUK TETAP BERPENGHASILAN

Ini sudah lewat satu pekan ketika saya harus merayakan  ‘second month of resign anniversary’ saya dari tempat saya bekerja. Ada nggak ada istilah itu ya pokoknya saya ada-adakan saja *maksa banget*. Rasanya sih nggak gimana-gimana. Positifnya nih ya (pertama) saya bisa mengerjakan pekerjaan yang dulu semasa sudah menikah tetapi masih LDR-an sama ‘mantan pacar’, saya enggan bahkan mengandalkan asisten rumah tangga untuk menyelesaikannya. But, untuk sekarang saya harus mengerjakannya dengan sigap, cermat dan penuh rasa tanggung jawab. SENDIRI. Yang (kedua) Menikmati waktu luang dengan sekonyong-konyongnya. Dan karena  saya adalah tipikal orang yang suka nge-game dan suka kelewatan, dulu sempat pernah kena tegur juga lho sama atasan dan salah satu staf saya karena hobi saya itu. Sekarang saya dihadapkan pada waktu luang yang amat sangat banyak. Nah katakanlah saya kelar mengerjakan pekerjaan saya pukul 11.00 siang, sisa waktu saya ini bisa saya gunakan untuk nge-game sepuasnya. Tapi setelah saya rasakan bosan juga ya, akhirnya saya mengalihkan hobi saya yang nggak ngasilin duit itu dengan belajar nulis, baca buku, merajut dan juga nonton tivi, pkus BONUS bobok siang (pas dulu kerja, rasanya pengen banget bobok siang tapi nggak bisa).Yang (ketiga) Quality time sama Raden Yoga Nata Adhikara jadi bisa SELALU. Dulu tiap dua pekan sekali baru ketemu, cuma dua hari (dikurangi waktu perjalanan) cukup membuat saya termehek-mehek pas adegan naik bis kotanya. Ya, macam adegan FTV-FTV gitu deh, dipastikan dia tersenyum amat manis sedangkan saya mewek sampai bis berangkat dan sampai saya terlelap di dalam bis *pengakuan dosa*. Yang (keempat) bisa belajar memasak dengan serius karena setiap sore masakan saya akan dinilai oleh si Akang. Ya, tentu saja mengandalkan google dan screenshoot (kalau kapan-kapan lupa resepnya tinggal saya buka lagi hasil googlingan saya gitu maksudnya. But, nggak apa-apa kan belajar.
Negatifnya adakah? Ya bukan negatif sih ya. Penyesuaian aja dari wanita bekerja di kantor ke wanita bekerja di dalam rumah (jangan kira ibu-ibu atau istri-istri nggak capek lho ya). (Pertama) Rasa percaya diri agak berkurang dari wanita berpenghasilan pasti, ke wanita berpenghasilan musiman. Dari biasanya rapi dan wangi setiap hari, sekarang wanginya justru kalau sore hari. But, saya sudah bisa mengatasinya caranya gimanabiar tetap berpenghasilan?Terampillah wahai para kaum wanita apapun pekerjaanmu sekarang. Entah memasak, menjahit, merajut, berjualan, menulis dan lain-lain dan semoga someday ketrampilanmu itu bermanfaat bisa jadi usaha tambahan, atau malah jadi usaha utama. Kalau kata mba Dian Sastro “Mau berprofesi menjadi wanita karir atau ibu rumah tangga wanita tetaplah harus berpendidikan tinggi.” Karena apa?tugas utamanya adalah mencerdaskan anak-ananknya kelak. Kalau versi saya, jika mau memilih jadi ibu rumah tangga upayakan untuk bisa tetap berkarya (di dalam rumah) dan tetap berpenghasilan. Bukan bermaksud untuk menandingi suami, tetapi justru untuk belajar mandiri dan membantu suami. Katanya multitasking kan?buktikan donk. (Kedua) Nikmat yang menurut saya paling susah dikendalikan adalah waktu luang, jangan-jangan waktu saya terbuang sia-sia karena saya tidak membuat Daily List To Do seperti ketika saya berkerja. Pasti, but saya sudah bisa menyiasatinya. Jadi boleh donk istri-istri atau ibu-ibu bikin daily list to do?boleh banget. Menurut saya itu sangat membantu. Selain jelas apa saja yang akan kita kerjakan, ada juga estimasi waktu jadi harapannya sih tidak ada kata wasting time. Kalau itu terlalu ribet gunakan target waktu saja, misal saya harus selesai mengerjakan pekerjaan rumah jam sekian-dan saya akan mengisi sisa waktu saya dengan bla bla bla. Cukup simple kok dan bermanfaat sekali. (Ketiga) Harus nge-rem hobi jajan dan belanja *nyesek, kalau dulu suka jajan sekarang makan yang banyak biar nggak laper dan  kepengen jajan*, begitu ada baju bagus tanya harga iklanin (dimana aja) dan jual, kalau ada uang lebih baru boleh beli. Syukur-syukur kalau misal laba jualan bisa buat beli, jadi itung-itung reward buat diri sendiri karena tidak lagi menerima insentif dari perusahaan. (Keempat) dicecar pertanyaan beragam oleh pihak internal atau pun eksternal. Ah, itu mah udah biasa. Kalau udah menthok mah yang tanya juga bosen sendiri, udah solusinya Cuma satu #SENYUMINAJAH.
Kira-kira begitu saja curhatan gaya bebas ala saya. Nah, ambil semua hikmah dari setiap kejadian karena yakinlah bahwa hikmah nongolnya di belakang kalau yang di depan mah namanya planning, dan sekali lagi kita merencanakan Allah maha cinta-lah yang akan menentukan. Kita harus yakin dengan keputusan yang kita ambil. Positif-Negatif pasti menyertai kok, tinggal ambil bagian positif dan siasati negatifnya. Cara pandang dan rasa syukur sangatlah berpengaruh, jadi belajarnya memandang setiap kejadian dari sudut pandang yang berbeda. Dan jangan lupa bersyukur dan bahagia, karena hidup ini hanya sekali dan kita berhak menikmati hidup kita dan bahagia. HAPPY 2ND MONTH ANNIVERSARY. Stay Healthy, and blogging.



Rabu, 21 Oktober 2015

CANTIK DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Hari ini  sembari nyetrika saya nyimak acara TV (hal yang sangat langka) karena biasanya TV di monopoli oleh suami di pagi hari dengan menonton acara favoritnya yang tidak lain dan tidak bukan adalah  SPONGEBOB SQUARE PANTS . Saya sangat takjub dengan wajahnya yang sampai terlongo-longo menyaksikan aksi konyol dari tokoh kartun yang diangkat dari perwujudan sabut cuci piring itu. Well, menurut saya nggak banget(kapan-kapan saya bedah deh kenapa kartun itu begitu digemari, wkwkwkw). Sangat kontras dengan kondisi semalam dimana wajahnya menyimak data statistik Perbankan Indonesia sambil mendengarkan yang saya pikir itu adalah musik, ternyata adalah recording hasil presentasi mantan kepala kantor Pusat BRI yang baru-baru ini ia ceritakan kepada saya. Wahai suamiku kamu lucu dan menggemaskan sekali. Sudah-sudah ini bukan melodrama atau drama korea.

Nyambung yang tadi ya, acara TV yang saya simak hari ini adalah sebuah kajian yang mengangkat tema cukup menarik. Temanya adalah mengenai kecantikan, dan bagaimana isu kecantikan yang sekarang ini sedang marak disorot dari sisi agama Islam. Komentator dari dunia selebritis ada Mba Andi Soraya dan Mba Soraya Larasati (keduanya sama-sama Soraya). Acara ini diisi oleh Ustadzah Qurrota 'Ayun. Ada juga bintang tamu sekaligus pelaku (bedah kecantikan) yaitu Mba Ratu Metta. Dan yang nggak kalah cetar yaitu rombongan Ibu-ibu majelis taklim dari seluruh Indonesia yang mengenakan baju warna-warni yang semakin membuat acara ini semarak. Komplit ya. Oh iya, satu-satunya lelaki tampan yang tersorot kamera adalah host dari acara ini adalah Kak Bobby. Sudah lengkap ya?

Dalam kajian kali ini Ummi ‘Ayun (begitu beliau akrab di sapa) menjelaskan bahwa setiap manusia terlahir sempurna dan indah. Semua membawa kekurangan yang sudah barang tentu dilengkapi pula dengan kelebihan yang melekat pada diri setiap individu. Pun dengan perempuan, ia terlahir cantik dengan versi masing-masing. Ada yang berhidung tidak terlalu mancung tetapi tetap cantik, ada yang bergigi ‘gingsul’ tapi menambah manisnya, serta ke-khasan masing-masing individu yang tidak ada satupun yang serupa di dunia ini. Dan semua sudah diciptakan Allah secara seimbang. Beliau pun mengutip sebuah ayat dari kitabullah yang berbunyi :

“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS At-Tin : 4)

Nah, selang beberapa menit setelah beliau menjelaskan tentang bagaimana keindahan fisik manusia beserta bagaimana cara mensyukurinya ditampilkanlah slide-slide tentang seseorang yang telah mengubah beberapa titik di wajahnya dengan sulam bibir, sulam alis, tanam benang, dan tarik wajah yang tak lain adalah Mba Ratu Metta. Motivasi Mba Metta dalam melakukan ‘revisi’ terhadap ketidak puasan atas ciptaan Allah itu adalah dorongan dari sang calon suami. Yah, baru jadi calon pemirsa. Yang langsung disambut agak sarkatis oleh Mba Andi Soraya sebagai komentator. Beliau (Mba Andi) berkata “mba Metta yang masih cantik dan muda saja diminta tarik-tarik wajah demi dia. Gimana nanti kalau wajah mba sudah nggak bisa di tarik-tarik?apa dia bakal ninggalin mba demi yang lain?”.

Mba Metta pun akhirnya menjawab dan mengakui bahwa beliau pun melakukan ini karena dasar suka dan ingin tampil lebih cantik (jadi memang atas permintaan calon suami, dan beliau mengiyakan) bukan atas dasar paksaan. Dari sisi Mba Soraya Larasati ( sebagai komentator ke dua), beliau lebih slow dalam menanggapi “Jika itu permintaan suami sih nggak apa-apa menurut saya (beliau menyebutkan hadits yang terbatas pada nama perawinya saja yaitu Imam Nawawi tanpa menyebutkan redaksi dan beliau pun mengakui sumbernya hanya terbatas dari internet).” Mba Metta pun kemudian meminta solusi dan pandangan atas apa yang sudah dilakukannya kepada sang empunya acara. Ummi ‘Ayun pun  kemudian membacakan sebuah hadits yang bunyinya demikian :

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, “Allah melaknat tukang tato, orang yang ditato, al-mutanamishah, dan orang yang merenggangkan gigi, untuk kecantikan, yang mengubah ciptaan Allah.”
(HR. Bukhari , Muslim, dan mutaffaqun alaih).

Beliau sebagai nara sumber sangat tegas dalam menerangkan bahwa memang tidak boleh merubah ciptaan Allah dalam bentuk apa pun(baik permanen maupun non  permanen). Kecuali untuk case tertentu (misal : karena sebuah kecelakaan seseorang mengalami bibir sumbing maka justru itu wajib dioperasi karena demi kemaslahatan, contohnya ketika membaca Qur’an).  Bahwa Allah sudah menciptakan kita dengan sebaik-baiknya penciptaan. Lalu apa kabar dunia yang sekarang ini dipenuhi dengan tindakan bedah kecantikan yang sudah dianggap mainstream itu?Wallahu ‘alam. Memang benar Islam datang dalam kondisi terasing dan akan pergi dalam kondisi terasing pula. Orang taat dianggap fundamental. Orang ikut-ikutan justru semakin banyak followernya. *miris*

Saya kemudian mengingat bahwa ketika saya menikah saya terpaksa dicukur alis, bulu wajah, dan memakai bulu mata(rasanya kepengen nangis sepanjang hari itu, karena alis saya hilang serta bulu mata palsu berat sekali). Semoga itu terus menjadi pelajaran sekaligus reminder buat saya. Saya juga bukan manusia sempurna dan menabur dosa dimana-mana. Tetapi saya mengiyakan pendapat Ummi ‘ayun bahwa semua orang tentulah pernah melakukan dosa tetapi kembali bagaimana kita menyikapi itu selanjutnya. Hidup harus terus berlanjut bukan? Yang sudah kita tutup, yang belum mari kita tingkatkan ilmu pengetahuan. Yey, atas nama ILMU PENGETAHUAN. SEMANGAT. Terus berkarya, menulis, dan menjadi blogger yang bermanfaat. Salam…